manaqib

Posted by Aryadi ibnie on 05:28 AM, 21-Jan-14

MANAQIBAN

Oleh :  Drs. Adeng Nurdin

 

Mukaddimah,

           

Manaqib secara leksikal berarti kebaikan sifat dan sesuatu yang mengandung keberkahan. Dalam arti yang lebih luas, manaqib adalah kisah atau riwayat hidup seseorang yang sangat di kenal, dihormati, dimuliakan dan dijadikan  panutan.

Dalam dunia tarikat,   yang disebut manaqib adalah buku catatan riwayat hidup seorang syekh tarikat yang memaparkan kisah-kisahnya yang ajaib dan bersifat menyanjung dengan menyertakan ikhtisar hikayatnya, legenda, kekeramatannya, dan nasihat-nasihatnya.

Sebenarnya setiap tokoh di zaman dahulu baik para wali, nabi, rosul  dan lainnya  banyak ditulis riwayat hidupnya atau manaqibnya. Tapi di kalangan masyarakat muslim di Indonesia, khususnya muslim tradisional, jikalau disebut manaqib atau manaqiban itu yang dimaksud ialah manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani ( 1077-1166 M )  pendiri tarikat Kadiriyah,  dan manaqib Syekh Saman  ( 1718 – 1775 M ), nama lengkapnya  Muhammad bin Abdul Karim As Samani,  pendiri tarikat Samaniyah..

 

Manaqib Syekh Saman, dan  Syekh Abdul Qodir Jailani, 

            Kitab-kitab yang berisi manaqib Syekh Saman : 1. Al Manaqib Al Kubro, 2. Kitab Tabaqat Syekh Ahmad As Syarnubi, 3. Manaqib Syekh As Syahir Muhammad Saman.

 

Sedangkan kitab-kitab yang berisi manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani : 1. Bahjatul Asror, 2. Khulashah Al Mafakhir, 3. Qala-idul Jawahir, 4. Natijah Tahqiq, 5. An Nur Al Burhani fi tarjamah Lujain Ad Dani fi manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, 6. Lubabul Ma’ani fi tarjamah Lujain Ad Dani fi manaqib Sayyid Syekh Abdul Qodir Jailani.

 

Dalam makalah ini hanya akan dinuqil kitab Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani yang dikarang oleh Syeikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al Barzanji. Dia adalah seorang  ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pengikut mazhab Syafi’i, dilahirkan di Madinah. Kitabnya bernama Al Lujain Ad Dani fi zikri nubdzatin min manaqibir Robbani Sayyidina As Syekh Abdul  Qodir Al Jailani.

Dalam kitab tersebut banyak mengisahkan tentang karomah ( keistimewaan )  atau keajaiban Syekh Abdul Qodir Jailani. Dari semua karomah itu banyak yang terlihat berlebihan, dan bahkan  melebihi mu’jizat para Nabi.

 

Beberapa  kisah Syekh Abdul Qadir Jailani dalam kitab Manaqiban,

 

1.      Syekh Abdul Qadir Jailani bertemu dengan Nabi Khidir lalu belajar dengannya. Nabi Khidir menyuruh beliau untuk  duduk di suatu tempat. Lalu Syekh Abdul Qodir duduk di situ selama 3 tahun.

2.      Syekh Abdul Qodir pernah berjalan di atas awan, lalu kembali ke kursinya.

3.      Ketika Syekh sedang berwudhu, lalu kejatuhan kotoran burung. Maka tatkala beliau mengangkat kepalanya, jatuhlah burung itu lalu mati. Beliau melepas bajunya untuk dicuci, lalu disedekahkan kepada orang sebagai tebusan atas matinya burung itu.

4.      Seorang ibu datang untuk melihat anaknya yang menjadi santri Syekh Abdul Qodir. Ibu itu terkejut ketika melihat anaknya kurus karena makanan yang diberikan hanyalah roti kering yang tak bergizi. Dia masuk ke ruangan Syekh, ia melihat Syekh Abdul Qodir  sedang makan daging ayam. Lalu ia komplain ke Syekh; mengapa syekh makan daging ayam sedangkan santrinya hanya makan roti yang tak bergizi.  Syekh berkata : wahai ibu kalau anak ibu sudah bisa melakukan seperti yang saya lakukan, dia boleh makan enak. Syekh mengumpulkan tulang ayam, lalu meletakkan tangannya di atas tulang ayam, lalu berkata : Berdirilah dengan izin Allah, Zat yang dapat menghidupkan tulang yang telah hancur.  Maka tiba-tiba berdirilah tulang itu menjadi ayam, lalu berkokok sambil membaca syahadat : La ilaha illallah, Muhammadur Rosulullah, As Syekh Abdul Qodir  Waliyyullah.

 

Fatwa-fatwa Syekh Abdul Qodir Jailani,

 

Dalam kitab manaqiban, juga dinuqil fatwa-fatwa Syekh Abdul Qadir Jailani, di antaranya :

 

1. Ikutilah sunnah Rosul dan jangan berbuat bid’ah.

2. Berbaktilah kepada Allah dan Rosulnya, jangan sampai keluar dari islam.

3. Bersabarlah, jangan kau menggumam.

4. Berharaplah untuk mendapat kesejahteraan, dan jangan sampai  kamu berputus  asa.

5. Berkumpullah untuk mengingat Allah ( zikir ) jangan bercerai berai. 

6. Bersihkan dirimu dengan bertaubat dari segala dosa, jangan sampai kau nodai dengan dosa. 

7. Hadapkanlah wajahmu di depan pintu Tuhamu, untuk memohon ampunan-Nya, jangan  sampai kamu  tinggalkan.

 

 

Prosesi pembacaan kitab Manaqiban,

 

            Sebenarnya jikalau Manaqib itu dibaca  dan difahami artinya serta ditiru hal-hal yang baiknya, maka perbuatan itu adalah suatu hal yang baik. Tetapi di kalangan sebagian masyarakat muslim tradisional, membaca manaqiban itu  dinilai sebagai bacaan yang sakral dan suci. Manaqib dibaca  jikalau seseorang mempunyai hajat ( kehendak, niat atau cita-cita ) yang dengan  membaca  manaqiban tersebut berharap agar cita-citanya terkabul, dengan bertawassul kepada Syekh Abdul Qodir Jailani.

            Manaqiban dibaca pada waktu  hari Asyura ( 10 Muharram ),  27 Rajab,  Nisfu Sya’ban, dan hari pertama bulan  Safar.

            Prosesi pembacaan manaqib :  Pertama dibuka dengan membaca Al Fatihah yang ditujukan untuk Nabi Muhammad SAW, sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, auliya, dan syuhada. Lalu dibaca alfatihah untuk yang mempunyai hajat ( sohibul hajat ). Kemudian dibacakan do’a. Selanjutnya pada acara inti,  barulah dimulai pembacaan manaqib.  Setelah selesai dibacakan Istighosah dengan tujuan untuk bertawassul melalui Syekh Abdul Qodir Jailani agar maksudnya tercapai.

 

Kesimpulan,

 

1. Membaca manaqib para wali atau nabi jika tujuannya untuk mengikuti siroh perjuangannya, akhlaknya, amalan-amalannya, dan akhlak-akhlaknya, adalah perbuatan baik.

2.   Membaca manaqib  kalau dimaksudkan sebagai sesuatu yang sakral  dan dengan cara-cara  tertentu, maka hal tersebut tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan perbuatan itu dapat menjerumuskan seseorang  ke dalam perbuatan bid’ah.

3. Bertawassul yang di bolehkan ialah tawassul dengan amal-amal soleh,  tawassul dengan menyebut  asma Allah ( asmaul husna ), dan tawassul  dengan cara minta di doakan oleh seorang  alim yang masih hiduip.  Sedangkan bertawassul dengan orang yang sudah mati, meskipun dia Nabi, Wali, orang Solih, dan lainnya tidak ada tuntunannya dalam Quran dan Hadits dan tidak ada contohnya dari Nabi SAW, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan imam-imam mazhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syafi’ie, dan Hambali ).

4. Kewajiban Ustadz, Ulama, Kiyai, orang alim untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada orang awam tentang hakikat  yang sebenarnya  maksud dari pembacaan manaqib.

5. Kewajiban kita semua untuk menyampaikan yang hak di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat yang awam agar mereka tidak menyimpang dari tuntunan agama.

 

 

Sumber Rujukan :

 

1.      Manaqib, oleh Ust. Labib MZ dan Ust. Moh. Ridho.

2.      Ensiklopedia Islam.

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

1 responses to "manaqib"

very setiawan on 05:44 AM, 21-Jan-14

ane nyimak aja gan.
Di tunggu kunbalnya
Hehe

Subscribe to comments feed: [RSS] [Atom]

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(Some BBCode tags are allowed)

Security Code:
Enable Images